Perlahan namun pasti, penyelenggaraan ajang tahunan PEPADI Pusat ini kian beranjak maju. Hal itu terlihat dari meningkatnya jumlah peserta dari tahun ke tahun. Hal man ayang menunjukkan progress perkembangan ajang ini dari tahun ke tahun.

Adalah kontingen dari Tulungagung, Jawa Timur yang membuka pertunjukan pembuka di FDB dan FDM 2018. Kontingen Tulungagung mendapat kesempatan ini karena berhasil menyabet prestasi tertinggi tahun sebelumnya. Sudah menjadi kebiasaan memang, pemenang Festival di tahun sebelumnya mendapat kehormatan menjadi penampil di pembukaan ajang serupa pada tahun berikutnya. Dan benar saja, penampilan kontingen Tulungagung ini boleh dikata cukup memukau.

Mas Irwan Riyadi yang didapuk sebagai pembawa acara pun tak bisa menyembunyikan kekagumannya. Lontar pujian beberapa kali keluar usai rombongan yang didalangi Ki Hazel Adi Tama Arrafi ini sukses membawakan lakon Bima Maneges pada sesi pembukaan. Harmonisasai musik, tutur, berpadu padan dengan vokal dan sabet Sang Dalang sukses memukau tamu yang hadir. Penampilan kontingen Tulungagung tersebut seakan jadi penegas bahwa regenerasi Wayang dan Pedalangan masih terus berlanjut, bahkan semakin baik.

Adapun tema yang diangkat pada FDB dan FDM kali ini adalah Dalang Go Digital. Sebuah tema yang mungkin tak biasa bagi organisasi berbasis seni tradisi seperti PEPADI. Namun pengambilan tema tersebut bisa dimaknai sebagai sebuah penegasan betapa penetrasi internet saat ini sudah menjadi semacam keniscayaan zaman yang tak dapat ditampik dari kehidupan sehari-hari. Aktivitas dunia maya sudah tak bisa lagi dipandang semata sebagai etalase pemanis organisasi. Apa yang terjadi pada peradaban beberapa dekade terakhir menunjukkan bagaimana internet memainkan faktor determinan dalam hampir setiap aspek kehidupan bermasyarakat.

Jika dahulu dunia telah mengalami berbagai bentuk revolusi maka, kini tak ada yang bisa menampik realitas bahwa kita sedang berada pada fase revolusi digital. Segala sesuatu sedang berubah. Dan perubahan tersebut akan menggilas siapa saja yang tidak membekali diri dengan kemampuan adaptasi seiring pergerakan zaman. Barangkali hal ini jua yang melatari PEPADI sebagai salah satu representasi organisasi berbasis seni tradisi mau tak mau ditantang untuk bergerak maju mengikuti arus.

Terlebih lagi salah satu misi yang diemban PEPADI adalah bagaimana menularkan nilai-nilai Adiluhung pertunjukan Wayang dalam kehidupan sehari-hari. Juga bagaimana upaya PEPADI yang terus menjaga konsistensi upaya pelestarian Seni Wayang melalui ajang-ajang semacam FDB dan FDM yang diselenggarakan secara berkala dan berjenjang. Wayang dan Pedalangan harus terus beregenerasi. Dan komitmen itu sesungguhnya kini sedang berhadapan dengan ujiannya.

Satu hal yang layak disukuri kiranya adalah, di tengah merambahnya kesadaran milenial kini, pertunjukan Wayang masih bisa eksis. Ajang Wayang seperti FDB dan FDM pun masih berjalan. PEPADI Pusat sebagai organisasi pengayom profesi Dalang yang notabene menjadi profesi sentral dalam pertunjukan Wayang pun terus gigih memperjuangkan komitmennya. Penyelenggaraan tahun ini barangkali bisa menjadi salah satu parameter di mana animo terhadap Wayang masih tinggi.

Bertambahnya peserta FDB dan FDM dari tahun ke tahun kiranya memberi sebersit harapan positif bagi perkembangan Wayang ke depan. Dalam sambutannya pada pembukaan FDB dan FDM, Pak Kondang Sutrisna memberi apresiasi positif terhadap peranan sanggar-sanggar seni Wayang di daerah-daerah yang terus membaik secara kualitas dan bertambah secara kuantitas. “Festival kali ini diikuti oleh 59 peserta yag terdiri dari 30 Dalang Muda dan 29 Dalang Bocah dari 10 Provinsi. Ada peningkatan dari tahun lalu. Artinya ada pertumbuhan sanggar di daerah-daerah,” ujar orang nomor satu di PEPADI ini.

Konsekuensi bertambahnya jumlah peserta pun memaksa festival harus berlangsung selama empat hari. Di mana sebelumnya, ajang FDB pun FDM lazim digelar selama dua sampai tiga hari. Jika merujuk pada kondisi ideal bahkan, waktu empat hari saja masih belum cukup untuk memfasilitasi acara dengan jumlah peserta sebanyak sekarang ini. Hanya saja, berbagai keterbatasan yang dimiliki mengurungkan niat untuk menambah durasi pelaksanaan Festival. Pak Kondang pun mengakui jika salah satu beban terberat dalam penyelenggaraan ajang ini adalah pembiayaan.

Selain peranan sanggar-sanggar di daerah, apresiasi juga diberikan kepada seluruh pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan acara. “PEPADI nggak mungkin kerja sendiri. Kalau nggak ada bantuan dari Pemerintah, kami akan keberatan,” papar beliau dalam sambutan pembuka. Sehingga wajar jika PEPADI berharap Pemerintah bisa terus memberi dukungan ke depannya. Agar harapan apresiasi terhadap Wayang lebih baik ke depannya bisa terwujud.

Pak Kondang sepertinya sungguh menyimpan keyakinan besar terhadap penyelenggaraan FDB dan FDM tahun ini. Meski menaruh rasa hormat terhadap Dewan Juri yang dilibatkan, Pak Kondang yakin jika kali ini juri akan menemui kesulitan untuk menentukan siapa yang terbaik. Wajar saja, Dalang Bocah maupun Dalang Muda yang hadir di Taman Mini Indonesia Indah (tempat FDB dan FDM tingkat Nasional 2018 dilaksanakan), telah melewati seleksi ketat di daerahnya masing-masing. Penggemblengan yang dilakukan di daerah-daerah tersebut menjadi bekal berharga untuk tampil di Jakarta. Sehingga, mereka yang berangkat ke Ibukota sudah barang tentu merupakan Dalang Bocah dan Dalang Muda pilihan.