Festival Dalang Bocah (FDB) dan Festival Dalang Muda (FDM) 2018 yang digelar di Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta, telah memasuki hari ke-2, Jumat, 21 September 2018. Sebagai penyelenggara kegiatan yang telah rutin dilaksanakan setiap tahunnya, Persatuan Pedalangan Indonesia (PEPADI) berharap agar kegiatan FDB dan FDM menjadi ajang yang kompeten untuk meningkatkan pedalangan di Indonesia, khususnya di kalangan anak-anak dan remaja.Harapan tersebut boleh dikatakan memperlihatkan hasil yang positif. Hal ini terlihat dari padatnya jadwal di hari ke-2; dibuka oleh penampil pertama pada pukul 9 pagi WIB hingga penampil terakhir yang diagendakan selesai hampir tengah malam. Tingginya animo peserta dari berbagai daerah menunjukkan besarnya minat penggiat pedalangan akan kegiatan FDB dan FDM.

Tak hanya jumlah. Ajang FDB dan FDM menjadi kegiatan yang diharapkan mampu mendorong jenis-jenis wayang yang selama ini “berada di luar jalur mainstream” untuk dapat muncul ke permukaan. Ketua tim juri FDM 2018, Dr. Sugeng Nugroho, S.Kar., M.Sn., memberikan catatan penting atas 2 (dua) penampilan Wayang Banjar Kalimantan oleh para dalang muda dari Kalimantan Selatan. Tampilnya 2 (dua) dalang muda tersebut menunjukkan keragaman bentuk wayang di Indonesia, yang justru mencerminkan keanekaragaman budaya Indonesia. Sugeng mengakui, sesungguhnya setiap jenis dan bentuk wayang memiliki karakteristik yang berbeda-beda, yang tidak dapat disejajarkan begitu saja antara satu dengan lainnya. “Penyuguhan setiap bentuknya saling berbeda, dengan puncak suguhan yang juga saling berbeda. Lakonnya, itu pasti baku,” imbuh Sugeng lagi.

Dari aspek kualitas, peningkatan teknik para penampil sangat terasa jika dibandingkan tahun sebelumnya. Ketua tim juri FDB 2018, Yanusa Nugroho, memberikan tekanan pada beberapa penampil dalang bocah yang mampu menunjukkan performa dengan sangat baik. Jika dibandingkan kegiatan FDB tahun sebelumnya, Yanusa melihat adanya peningkatan yang cukup signifikan, khususnya dalam aspek kualitas penyajian oleh para dalang bocah. Hal ini menunjukkan adanya pembinaan yang cukup intensif dari para penggiat sanggar pewayangan di daerah. Namun demikian, Yanusa tak menampik peran media sosial khususnya bagi generasi dalang bocah hari ini. “Generasi milenial punya media Youtube untuk bisa belajar apapun, termasuk pedalangan. Tapi, tentu saja, pembinaan menjadi faktor penting bagi para dalang bocah untuk bisa menyuguhkan lakon dengan baik,” tegas Yanusa.

Apapun itu, kita patut berbangga dan berbesar hati. Peningkatan ragam wayang, jumlah penampil, dan aspek kualitas, menunjukkan adanya secercah harapan, bahwa pewayangan masih mendapatkan tempat di sanubari anak-anak dan remaja hari ini. (Peter Johan)