Wayang sudah sangat melekat di hati masyarakat Indonesia karena wayang merupakan wahana yang dapat memberikan sebuah sumbangsih bagi kehidupan manusia dalam bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Wayang merupakan media pertunjukan yang dapat memuat segala aspek kehidupan manusia, pemikiran manusia baik terkait dengan ideologi maupun poitik, ekonomi, sosial, budaya dan hukum maupun pertahanan keamanan.  Nilai-nilai yang terkandung di dalam seni pewayangan telah terbukti juga dapat digunakan untuk  membangun karakter bangsa Indonesia, karena dalam wayang juga dikandung ajaran-ajaran yang dapat dipergunakan sebagai pedoman hidup bagi masyarakat, misalnya ajaran kepemimpinan: hendaknya seorang pemimpin meneladani watak surya, candra, kartika, angkasa, kisma, tirta, dahana, dan samirana (astharabrata).

Wayang merupakan mahakarya bangsa Indonesia yang pantas untuk dilestarikan, tidak hanya sebatas pelestarian fisik wayangnya namun juga seni pertunjukan wayang yang sarat dengan nilai simbolis, filosofis.  Pada tanggal 7 November 2003, UNESCO mengakui wayang kulit sebagai Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity atau karya kebudayaan yang mengagumkan dalam bidang cerita narasi dan warisan yang indah dan berharga.  Wayang kembali ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda dunia oleh UNESCO. Pertunjukan wayang ditetapkan dalam sesi ketiga Komite Antarpemerintah di Instanbul, Turki pada 4-9 November 2008.

Persatuan Pedalangan Indonesia (PEPADI) Pusat, yang merupakan Organisasi nirlaba yang beranggotakan para pelaku, pemerhati seni pedalangan yang selalu mengupayakan pelestarian dan pengembangan wayang melalui berbagai kegiatan, salah satunya Festival Dalang Anak Tingkat Nasional (FDA). Festival Dalang Anak Tingkat Nasional merupakan ajang  tahunan untuk menjaring dalang anak berbakat di tingkat nasional, yang sebelumnya ada tahapan seleksi berjenjang di tingkat Kabupaten/Kota dan Provinsi. Jenis wayang yang akan difestivalkan antara lain; Wayang Kulit Purwa gaya Surakarta,  Wayang Kulit Purwa Gaya Jogjakarta,  Wayang Kulit Gagrak Banyumasan,  Wayang Kulit Gagrag Jawa Timuran,  Wayang Kulit Gagrag Cirebonan,  Wayang Kulit Betawi,  Wayang  Golek Sunda.

Festival Dalang Anak tahun 2022 Tingkat Nasional yang diselenggarakan selama 3 hari, sejak 22 – 24 September 2022, dimaksudkan untuk mempersiapkan generasi dalang terbaik dalam rangka menyongsong Indonesia Emas 2045, sekaligus sebagai rintisan upaya menuju Indonesia sebagai rumah wayang dunia. FDA akan memperebutkan Trophy bergilir dari Ketua Umum Pepadi Pusat Bapak H. Kondang Sutrisno.

Kegiatan ini diikuti sebanyak 31 peserta, terbagi dalam dua kelompok. Kelompok A umur 8-11 tahun sebanyak 12 peserta, dan Kelompok B usia 12-15 tahun sebanyak 19 peserta, perwakilan dari Pepadi Provinsi, hasil seleksi berjenjang dari 179 Pepadi kabupaten/kota seluruh Indonesia. Tempat penyelenggaraan di Plaza Taman Fatahillah,  kawasan kota tua Jakarta.  Acara akan dibuka oleh Bapak Anies Rasyid Baswedan Gubernur DKI Jakarta, dilanjutkan pergelaran wayang 45 menit persembahan juara Festival Dalang Anak Nasional tahun 2020, Ki Nabil Ekri Rasfadilah dari Kabupaten Madiun.

Acara pembukaan akan dihadiri tokoh-tokoh nasional dan pengurus Pepadi Provinsi seluruh Indonesia,  serta dalang-dalang senior dan tamu undangan yang terdiri dari seniman,  budayawan,  dan pemerhati seni wayang.

FDA sebelumnya disebut FDB (Festival Dalang Bocah) telah berlangsung selama 15 tahun dan telah melahirkan dalang profesional,  yang mampu menghadapi tantangan zaman dan tetap mengedepankan karya yang edipeni dan adiluhung. Para sesi malam penutupan,  akan disajikan pergelaran Ludruk dibawah asuhan pelawak senior H. Sakirun, yang juga anggota Dewan Penasehat PEPADI Pusat. (Tim Humas)