Remaja dan anak-anak belia kerap disudutkan sebagai generasi yang enggan berdekatan dengan tradisi lokal. Banyak anggapan bahwa remaja adalah kalangan yang mudah hanyut dengan gemerlap budaya luar, dan seolah lupa menjejakkan kaki di tanah sendiri.

Bagaimana suara para remaja sendiri menanggapi anggapan ini? Beberapa seniman muda yang terlibat dalam perhelatan besar Festival Dalang Bocah dan Dalang Muda 2018 menyampaikan pandangannya.

Khanha Ade Kosasih Sunarya, dalang cilik yang berusia 15 tahun dari Bandung, ternyata menyetujui anggapan tersebut. Khanha menyadari bahwa pengaruh lingkungan tempat anak dan remaja bertumbuh sangat berperan besar membentuk minat seorang anak. Ia sendiri mengaku, ketertarikannya pada seni tradisi sangat terdorong oleh keluarga. Lahir dalam sebuah keluarga besar dalang wayang golek purwa di Bandung, Khanha telah melihat tradisi wayang golek sebagai bagian kehidupan sehari-hari. Melihat kakek mendalang, belajar dari kakak maupun orang tua tentang seni pedalangan adalah sudah menjadi hal yang biasa dilakukan.

Khanha berpendapat bahwa banyak remaja dan anal Indonesia kurang memberi perhatian pada seni tradisional. Menurutnya, untuk bisa lebih banyak menjangkau remaja, pementasan wayang masa kini perlu lebih banyak dikolaborasikan dengan kesenian lain, saat harus bersaing dengan begitu banyak pengaruh budaya pop dan modern. Khanha memandang, mengemas pementasan wayang dengan unsur musik pop adalah contoh menarik promosi bagi khalayak belia.

Dewi Citra, pengrawit cilik yang baru duduk di kelas 1 SMA 5 Surabaya, mengaku telah menyukai musik tradisional sejak kecil. “Saya suka seni sejak kecil, melalui seni tari,”ujarnya. Kesukaannya pada tari ini kemudian menariknya lebih jauh pada minatnya terhadap gamelan dan karawitan. Layaknya gayung bersambut, Dewi menemukan sebuah sanggar Baladewa yang berlokasi di Surabaya, tempatnya memperdalam keterampilan memainkan gamelan.

Seperti halnya Khanha, Dewi menyadari akan rendahnya minat remaja dan anak muda pada kesenian tradisi. Menurutnya, ada semacam pandangan umum bahwa seni tradisional seperti pedalangan dan karawitan merupakan tradisi ‘kuno’, “Mungkin mereka merasa gengsi untuk menekuninya kesenian tradisional,” Dewi menyampaikan.

Pendapat ini diamini oleh rekan satu sanggar Dewi, Arya Sasikirana dan Rasendriya, yang kini masih duduk di bangku SMP. Arya maupun Rasendriya awalnya tak begitu tahu maupun tertarik dengan seni karawitan dan pedalangan, sampai kemudian orang tuanya membawa mereka menyaksikan beberapa pementasan. Berkat dukungan orang tuanya, Rasendriya dan Arya bisa mengenal lebih jauh tentang seni tradisional serta menekuninya secara lebih mendalam. Bagi para siswa Sanggar Baladewa Surabaya ini, orang tua merupakan kunci utama sebagai jembatan terpaparnya anak dan remaja pada kesenian tradisional, misal,mulai dengan memperkenalkan anak dengan menonton pementasan.

Bentuk promosi terhadap remaja juga menjadi catatan penting. Menurut Dewi, Arya dan Rasendriya, remaja perlu diberi kesempatan mencoba, sert merasakan seni tradisional itu sendiri. Ketiganya berharap di masa mendatang kegiatan ‘workshop’ seni tradisional dapat dilakukan lebih sering. Dalam workshop ini, remaja diberi kesempatan untuk mencoba memainkan gamelan bersama pemain gamelan lain. Kegiatan’workshop’ ini bisa memberi kesempatan agar remaja ‘mengalami sendiri’ bermain karawitan.

Kemudian, strategi apalagi yang disodorkan para seniman muda ini untuk mempromosikan seni tradisional kepada rekan sebayanya? Ragil Jalu, dalang cilik wayang golek Menak dari Yogyakarta, melihat faktor bahasa sebagai persoalan penting. “Sebagai perkenalkan, di awal mungkin perlu mengemas pertunjukan dengan bahasa yang mudah dipahami,” Jalu menyampaikan. Untuk menarik minat khalayak remaja, mungkin bisa diawali dengan mengemas wayang dengan kisah dari kehidupan sehari-hari. Jalu mencontohkan Wayang Kampung Sebelah, pimpinan Ki Jlitheng Suparman,sebagai bentuk sajian yang pas buat remaja. Kemasan sajiannya dibuat dengan bahasa yang ringan dan cerita yang mudah dipahami karena dekat dengan pengalaman penonton sendiri. Bagi Jalu, jika pementasan klasik perkenalan untuk remaja langsung dalam bentuk pementasan klasik, bahasanya kurang bisa dipahami serta durasi yang lama sehingga remaja sering jadi bosan.

Usulan menarik juga dilontarkan oleh Dicky Prarathana untuk merangkul teman-teman remaja sebayanya, agar lebih dekat dengan seni tradisional. Sebagai pemuda yang lahir dan besar di megapolitan Jakarta dan tidak cukup lancar berbahasa Jawa, persoalan bahasa juga krusial. Namun, hal lain yang tak kalah penting adalah mendekati remaja, misal membawa pementasan seni tradisional seperti wayang ke sekolah-sekolah. Dicky berharap Makin banyak sekolah yang akan mengakomodasi usulnya. Pengenalan seni tradisional ini juga perlu lebih banyak disertakan dalam kurikulum di sekolah. “Saya mengenal seni wayang dari pelajaran sejarah, bukan pelajaran kesenian,”tuturnya.

Demikian beberapa usulan dari para seniman remaja. Selain suara para sesepuh dan seniman dewasa, apakah suara remaja sudah cukup didengarkan untuk menentukan arah program pengembangan dan pengelolaan tradisi lokal bagi generasi muda? Semoga. (Grey)

#dalangbocah #dalangmuda #pepadi